Category Archives: Blog

Berkunjung ke Batik Trusmi Cirebon | Jalan-jalan with BCL

Teman2, ada yang pernah mendengar kata Batik Trusmi di Cirebon? Pasti sebagian besar sudah yaa,,, aku juga sudah lama sebenarnya mendengar tentang Batik Trusmi, juga ownernya Sally Giovani yang cantik dan masih muda bangettt, pernah denger denk sewaktu Sally Giovani menjadi pembicara di PW TDA tahun 2016 kalau tidak salah.

Baru hari Minggu lalu daku berkesempatan mengunjungi Batik Trusmi, hmm… besar juga yaa, maklum aku gak bisa jalan jauh, hanya setengah area Batik Trusmi yang bisa kujajaki.

Ternyata tidak hanya batik yang ada di sana, melainkan juga makanan/oleh-oleh khas Cirebon juga ada, seperti tape ketan, terasi, sirup Tjampolay, dll. Btw batiknya buatku mahal-mahal euy hehe aku lebih suka ke Thamrin City kayaknya karena lebih banyak pilihan di sana, harga pun bervariasi. Di Thamcit harga mulai 50rb sampai jutaan.

 

Walewangko, Rumah Panggung Khas Minahasa

Walewangko atau Rumah Panggung Khas Minahasa ini banyak ditemukan di wilayah Woloan, Tomohon Barat, Sulawesi Utara. Ya karena Woloan tempatnya pengrajin rumah panggung atau rumah kayu khas Minahasa. Saat ke Manado awal tahun lalu, kusempatkan ke Woloan. Dari terminal Tomohon ada angkot yang menuju Woloan, atau naik ojek juga bisa dan tidak terlalu mahal karena tidak jauh, hanya sekitar 10 menitan dari Tomohon.

Di kiri-kanan wilayah Woloan bisa kita temukan banyak rumah adat Minahasa yang siap bisa kita beli.

Rumah panggung Minahasa tidak ada ukiran kayunya sama sekali. Dekorasi biasanya hanya kombinasi silang2 untuk bagian depan / pagar. Konstruksi bangunan rumah kayu tidak memakai paku jadi menggunakan pasak atau paku kayu. Rumah adat ini sangat unik yaitu bisa dibongkar pasang.  Jadi bisa dikirim ke Jakarta misalnya atau bahkan ke luar negeri. Bila ke luar negeri dikirim menggunakan container dan pengiriman menggunakan kapal laut. Sang tukang akan menyusul dan nantinya mereka yang memasang kayu-kayu sehingga menjadi rumah kembali. Hebat yaaa… ternyata mereka memberi tanda khusus pada masing-masing kayu dan hanya pembuat alias sang tukang lah yang tahu arti tanda2 tersebut.

Seluruh rumah adat terbuat dari kayu dan bagian dalamnya tidak dicat atau dipelitur sehingga warna asli kayu masih terjaga. Kayu yang digunakan adalah kayu besi yang banyak ditemukan di Bolaang Mongondow atau kayu meranti yang dikirim dari Palu, Sulawesi Tengah.

Oh iya, harga rumah panggung khas Minahasa ini tidak bisa dibilang murah lho, mulai dari yang paling murah rumah dengan 1 kamar seharga 70-80 juta, untuk yang 2-3 kamar bisa ratusan juta.

Jalan2 ke Candi Gedong Songo di Bandungan

Sebenarnya Jalan2 ke Candi Gedong Songo yang merupakan candi umat Hindu ini latepost, sudah sejak tahun lalu jalan-jalannya, tapi baru sekarang diposting. Biasalah si Femmy yak, #soksibuk hahaha

http://kaliskukis.com/ketika-pao-n-bento-maker-ikutan-membeli-mixer-bosch/ ya saat ke Semarang bertemu dengan Lily juga Eunike, aku sempatkan jalan-jalan ke Candi Songo, sendirian saja karena Eunike kerja, malamnya saja kita cari makan malam di kawasan Simpang Lima yang memang ramai dengan kuliner khas Jawa Tengah.

Jadi ceritanya daku sudah browsing2 dan mendapatkan petunjuk ke lokasi, yang bisa dicapai dengan kendaraan umum, dan dilanjutkan dengan ojek. Aku berangkat pun sudah kesorean. Jam 13.30-an aku aku keluar dari lokasi rumah Eunike yang di sebrangnya Java Mall. Menunggu angkot ke arah Ambarawa, yang ternyata harus naik 2x, pas di Banyumanik turun pas di depan toko kue Pauline. Lalu lanjut dengan angkot kuning ke Ambarawa, dari toko Pauline hanya 10 menit saja, turun di pasar Bandungan.

Dari pasar Bandungan aku tinggal naik ojek. Duh mahal euy ojeknya, 25rb padahal sebenarnya gak terlalu jauh tapi kalau jalan kaki gempor juga sih hahaha mungkin karena aku gak ngomong Jawa plus sipitnya mataku yang mirip encik2 gitu yak… eh abangnya mau nungguin untuk balik lagi ke pasar Bandungan.

Aku tiba di kawasan Candi Gedong Songo sekitar jam 4 sore. Keliling2 sekitar 1 jam lebih, hingga meninggalkan lokasi sekitar jam 17.45.  Pas banget karena angkot terakhir hanya sampai jam 6 saja. Pulang2 malam deh hehe

me and Anggun

Di kawasan Candi Gedong Songo kita bisa menikmati wisata naik kuda mengelilingi kawasan Candi Gedong Songo yang begitu luas. Medan yang harus dilalui dengan berkuda ternyata bukan jalanan yang datar, lurus-lurus saja, melainkan ada juga menurun, dan mendaki. Sebenarnya daku memang belum pernah naik kuda, kupikir udah tua gitu lho, malu hahaha eh tapi karena daku sendirian saja dan kupikir kapan lagi daku naik kuda kalau tidak sekarang? Ya atau ya? hahaha padahal daku ada syaraf kejepit, kalau jatuh bakalan fatale buat tulang2ku yang memang dah sakit 🙂 tapi kuberanikan diri saja deh…

Keliling berkuda dengan ditemani pawangnya pastinya berlangsung kurang lebih 1 jam dan biayanya Rp 80.000. Untuk menghilangkan ketakutan, daku sok akrab mengajak ngobrol sang pawang, yang bernama Nurdin. Nurdin hanya tamat SD dan langsung bekerja sebagai pawang kuda, sudah 15 tahun bekerja di sana dan dia punya 2 anak masih berusia SD. Sang kuda yang diberi nama Anggun (inget aja Anggun C. Sasmi ya), berumur 3 tahun. Sengaja dipilih betina karena betina lebih penurut. Usia kuda konon bisa sampai berumur 30 tahun. Anggun adalah hasil persilangan Australia dan Sumba. Sewaktu di atas si Anggun, Anggun sering banget bersin-bersin. Ternyata, bersin-bersin itu adalah hal biasa buat kuda, BAB sampai 10x dan pipis jarang pun hal normal. Selain rumput, si Anggun pun makan dedak dan bekatul, juga jagung.

kaget banget saat Anggun “mencium” tanganku hahaha beneran kagetttt 🙂 untung aja jantungku masih sehat wkwkwk

 

Karena medan yang akan dilalui naik-turun dan di satu sisi adalah jurang (wuaa tadi gak ngomong si Nurdin kalau ada jurangnya) jadi sebelumnya briefing bentar, walaupun pas ngalamin daku langsung lupa wkwkwk

Jadi, saat jalanan normal / datar, duduk rileks dan pandangan melihat ke depan. Saat menurun, posisi kaki diluruskan ke depan dan badan tegak, untuk mengimbangi kuda turun. Pegang tali kekang kuat-kuat. Saat naik saya lupa hahaha

Biasanya candi Gedong Songo ramai dikunjungi di musim liburan di bulan Juli-Agustus. Sehari bisa sampai 5x trip bahkan lebih.

 

Keseruan di Food n Hotel Indonesia 2017

Acara pameran Food n Hotel Indonesia 5-8 April 2027 ini sebetulnya adalah pameran tahunan yang diadakan di arena PRJ Kemayoran. Namun sebetulnya aku gak ada rencana ke sana, gegara semalam coba merenungkan apakah tahun ini aku akan tetap bikin kuker Lebaran atau tidak, akhirnya malam harinya kuputuskan untuk ikut FHI. Walaupun gak punya tiket dan hari ini adalah hari terakhir, aku contact Madam Fransisca Yunisha dan syukurlah dapat. Eh tetapi saat berangkat aku pergi agak siang dan tiba di sana saat jam 12 lewat sementara Madam sudah tiba dari jam 10. Tahu sendiri khan kalau udah asyik di pameran tuh bisa keliling2 lupa waktu dan jauh pula untuk keluar memberikan undangan.

Saat memasuki pintu 2, ide itu pun datang. Jadi, ku beranikan menyapa seorang pengunjung yang keluar dari arena pameran:

Saya : “Mohon maaf pak, besok masih datangkah ke sini?”

Bapak : “Oh enggak bu, hari ini khan terakhir”

Saya : “Oh gitu ya, boleh saya minta pass masuknya, pak? Kebetulan teman saya sudah di dalam, jadi kesian kalau dia harus jauh2 keluar”

Bapak : “Oh iya boleh”

Saya : “Makasih ya pak”

Akhirnya pas masuk pun kupakai di leherku hehe

Itu sungguh-sungguh ajaran sesat yak, jangan diikuti. Pas hari terakhir pula, kalau hari pertama atau kedua, orang biasanya akan datang lagi. Eh tapi kulihat seorang ibu sedang menelpon dan bilang kalau dia gak punya kartu nama dan gak dikasih masuk sama Panitia. Segera saja kusarankan ideku di atas tadi. Si ibu rupanya kurang ngeh sehingga harus kutemani keluar. Selanjutnya aku gak mantau lagi sih hahaha

Rupanya yang kusapa adalah seorang Executive Chef dari Yogya, xixixi maaf ya Chef, next time akan lebih terencana sih hehehe

Cari Perlengkapan Basket di Pontianak? WA ke Valen aja di 082152520012

Temans yang di Kalimantan Barat dan sekitarnya, bila mencari Perlengkapan Basket, di Pontianak khususnya, ya WA saja ke nomor di atas. Pemiliknya adalah seorang anak muda keren asal Pontianak. Sukaaa banget dengan semangat anak muda asli Pontianak satu ini, Valentius “Veldey”. Pemuda umur 20-an ini semangatnya tak diragukan lagi, semangat bangettt… Dua tahun lalu bersama dengan kakaknya, Valen mendaftarkan diri untuk mengikuti Financial Revolution TDW di Jakarta. Sang koko gak betah, gak ngerti yang diomongin sang pembicara, menganggap hanya ngoceh saja, sementara Valen bersemangat sekali untuk ikut next level of FR, Master Breakthrough, yang terdiri dari Life Revolution, Business Revolution, Property Rich Revolution dan Sales Marketing Revolution, yang harganya terbilang tidak murah.

Doi semangat menabung keuntungan yang didapat dari menjalankan bisnisnya yang tidak jauh dari hobby-nya berbasket ria. Ya, Valen menjual aneka perlengkapan basket, yang dipasarkannya di Pontianak, kota kelahirannya tersebut. Berbagai keperluan basket seperti kaos kaki, jersey, celana, juga sepatu basket dijualnya.

Awalnya doi menawarkan Perlengkapan Basket tersebut ke teman-temannya sesama penghobby basket di kota Pontianak, lalu lanjut ke kota lain. Bila ada pertandingan basket di kota terdekat, Valen ikut masuk sebagai penonton, lalu menggelar lapaknya. Mulanya tidak ada yang tertarik, karena tentunya gak kenal dengan penjualnya. Lama kelamaan ada juga yang beli, walau hanya kaos kaki. Gak nutup biaya akomodasinya karena untuk kejuaraan tersebut yang berlangsung selama beberapa hari, Valen harus stay di penginapan. Namun Valen pantang menyerah. Doi tetap mencari informasi kejuaraan basket di kota-kota terdekat dan kemudian mengikutinya.

Suatu ketika Valen diperkenalkan oleh temannya ke seorang pelatih. Sang pelatih ikut membantu mempromosikan produknya, hingga saat ini produknya cukup dikenal di seputaran Pontianak dsk.
Bila ada teman yang mau order jersey (untuk team), celana atau sepatu, bisa tengok di :
IG : Valentius
FB : Valentius
WA : 082152520012

Seminar Life Revolution Sambil Jalan2 di Surabaya (bagian 1)

Ada yang pernah dengar Seminar Life Revolution dari TDW alias Tung Desem Waringin? Itu seminar yang bagus banget untuk memunculkan motivasi diri untuk kehidupan yang lebih baik. Ga caya? Cobain aja deh…

Jadi ceritanya saya sudah daftar Life Revolution dan di jadwal ada di awal Maret namun karena saya tidak bisa jadi saya daftar yang di Surabaya yang diadakan pada tanggal 23-25 Maret 2017 di Hotel JW Marriott Jl. Embong Malang, Surabaya. Boleh donk ya sekalian jalan-jalan 🙂

Tadinya saya rencana mau naik pesawat secara harganya gak beda jauh dengan kereta. Tapi karena masih ada rasa takut mengalami turbulensi lagi, opsi naik pesawat pun saya hilangkan hehe

Saya naik KA Argo Anggrek yang berangkat dari stasiun Gambir jam 21.30 dan tiba di Stasiun Pasar Turi jam 06.30. Rencananya sih setibanya di sana saya akan naik ojek online ke hotel Harris yang letaknya tidak jauh dari sekitaran Embong Malang dan mandi (baca: berenang) sekalian olahraga. Sudah browsing sih, fee sekitar Rp 75.000, dibanding kalau berenang di JW Marriott yang mahal bangettt Rp 250.000 boo untuk tamu. Ya wajar sih namanya juga hotel bintang 5 yaaa hehe

Namun rencana tinggal rencana karena di KA saya benar-benar tidak bisa menutup mata dengan damai eh tidak bisa tidur maksudnya. Saya tuh orangnya susah tidur kalau di kendaraan, kecuali capek banget kali yak… Ga baik untuk kesehatan kalau tidak tidur malamnya terus nyemplung di kolam, so baju renang yang saya bawa mubazir deh karena tidak dipakai hikss

Oh iya, saya kuatir aja sih gak boleh early check-in di homestay yang saya pesan. Saya stay di Capsule Homestay di Jl. Kedungdoro. Ternyata boleh lho, baik banget ya si Capsule.

Saat di Lamongan, kulihat matahari enggak bersinar, ahh mudah-mudahan di Surabaya cuaca cerah. Lamongan jadi ingat soto Lamongan dan juga shipyard-3 DRU (kantorku dulu) yang terletak di Lamongan.

Tiba di stasiun Pasar Turi, banyak bener yang menawarkan tumpangan berbayar, ya tukang ojek, taxi, juga mobil charteran, 20rb saja ke tengah kota mereka bilang.

Kulihat sekeliling, ada beberapa warung yang menjual “Soto”, di sebrang stasiun pun ada. Baiklah… tapi lagi gak pengen soto jadi aku terus saja berjalan. Jadi dari stasiun Pasar Turi, aku berbelok ke kiri, ketemulah beberapa warung tenda gitu, tapi kok sepertinya biasa aja ya, so lanjut padahal sih kakiku sakit karena bengkak. Entah kenapa itu kaki, dari rumah sih sudah terasa sakitnya tapi aku cuekin saja, secara sayang kalau batal karena aku udah beli tiketnya beberapa hari sebelumnya dan juga homestay sudah lunas kubayar.

Tiba di perempatan ke arah pasar Turi, kulihat tukang becak, iseng eh gak iseng juga sih, pengen aja menikmati Surabaya di waktu pagi dengan berbecak ria. Kutanya, “pak, kalau ke Kedungdoro berapa?” aku gak bisa boso Jowo euy, ngerti dikit2 aja sih hehe “limolas, mbak”, jiahhh daku dipanggil mbak 🙂 wah berarti gak jauh donk ya… eh tapi di belakang tukang becak, kulihat seorang ibu sedang membereskan sesuatu, ternyata itu adalah makanan jualannya. Ah sayang gak foto si ibu itu…

Dan kutemukan nasi jagung ini, kelihatan khan nasi jagungnya sedikit itu, menarik karena selain nasi jagung yang jarang2 kumakan, ada sayur pepaya, tempe yang setengah matang, ikan asin, dan sambal. Sambalnya enak lho… tambah bakwan jagung, makan pakai tangan saja wow mantappp… oh iya, si ibu menjajakan nasi jagung dan banyak makanan lainnya berkeliling, sebetulnya dia ngetem sih di suatu komplek, lupa komplek apa namanya. Selain nasi jagung, ada bakwan jagung, tahu pong, aneka kue seperti kue pisang nagasari, kue bugis, timus, dll, juga aneka pisang. Banyak lho pisang yang dia bawa. Gak kebayang kalau aku yang bawa, beratnya itu makanan, tapi si ibu karena sudah terbiasa jadi asyik2 aja… padahal dia bukan orang Surabaya, jadi dia naik kereta ke Surabaya. Orang apa gitu lupa hehe

Setelah sarapan, lanjut deh daku naik becak. Sudah lama gak naik becak jarak agak jauh, selain dari rumah ke depan komplek. Ya di kompleks rumahku masih ada sih tukang becak, tapi aku jarang naik becak karena selalu motoran kalau keluar rumah. Becaknya sama saja seperti di Jakarta, pendekkk sehingga kepalaku menyentuh bagian atas becak. Ternyata si bapak melewati jalan tikus gitu, gang-gang kecil lalu akhirnya sampai juga di lampu merah Embong Malang-Blauran-Kedungdoro. Belok deh ke kanan udah Jalan Kedungdoro.

Selphie di becak, si bapak pun happy2 ajah haha

Resep Kombucha Sirsakti

Daku dapat Resep Kombucha Sirsakti ini dari oma Ning, herbalist seperti alm. Hembing gitu… Dibuang sayang Resep Kombucha Sirsakti ini jadi aku posting di sini saja ya, kapan-kapan aku mau bikin Kombucha tinggal cari di sini deh 🙂 setelah mendapat resep ini daku langsung bikin lho tapi sayangnya gagal, karena daku gak telaten orangnya wkwkwk lain waktu akan coba lagi ahh…

RESEP KOMBUCHA SIRSAKTI

Bahan-bahan yang dibutuhkan :

  • 2 liter air bersih (jangan air sumur, sebaiknya pakai aqua atau sejenisnya)
  • 250 gram gula pasir
  • 5 sachet teh Sirsakti atau teh hijau/hitam. Teh Kombucha yang sudah asam (cuka), kira-kira 10% dari bahan baru yang akan kita buat (dalam contoh ini berarti 200 ml)

Alat-alat yang dibutuhkan :

  • Panci stainless steel untuk merebus air. Perhatikan : jangan menggunakan panci alumunium. Bisa juga menggunakan panci email yang tidak ada cacatnya (karena kalau lapisan emailnya sudah mengelupas, biasanya keluar karat dari dalam lapisan email).
  • Stoples kaca/gelas bening untuk tempat fermentasi / pembuatan teh Kombucha. Jangan menggunakan tempat dari plastik (botol aqua dsb) atau tempat dari bahan logam karena akan mengakibatkan oksidasi. Tempat dari kaca adalah yang terbaik.
  • Serbet atau sapu tangan untuk menutup stoples tempat teh Kombucha dibuat.
  • Karet gelang atau tali.

Cara Pembuatan :

  1. Rebus kurang lebih 0.5 liter air dalam panci stainless.
  2. Setelah air mendidih lalu masukkan daun teh ke dalamnya, tutup rapat panci, biarkan selama 2-3 menit. Rata-rata pemakaian daun teh adalah 15 gram/liter. Tapi ini tergantung selera Anda. Jika ingin lebih pekat, daun teh bisa ditambahkan atau sebaliknya.
  3. Saring daun teh dan tambahkan gula. Aduk sampai gula meleleh sempurna.
  4. Tambahkan 1.5 liter air dingin sisanya ke dalam panci agar teh menjadi cepat dingin.
  5. Setelah temperatur sama dengan suhu ruang, pindahkan cairan teh manis tersebut ke dalam stoples kaca yang sudah disediakan, sambil disaring.
  6. Masukkan teh Kombucha biang sebagai starternya dan kemudian jamur Kombuchanya. Tidak masalah apakah jamur tersebut nantinya tenggelam atau mengapung di permukaan.
  7. Tutup stoples kaca tersebut dengan secarik sapu tangan bersih agar debu/lalat buah tidak masuk ke dalam stoples namun tetap ada udara, jamur Kombucha tersebut butuh bernafas. Ikat saputangan dengan tali atau karet agar tidak mudah terbuka (rapat). Ingatlah bahwa lalat buah sangat menyukai bau dari kombucha. Jika Anda tidak menutupnya rapat-rapat, lalat buah akan masuk dan bertelur di dalamnya.
  8. Jangan menaruh wadah fermentasi di tempat yang terkena sinar matahari langsung karena sinar ultraviolet akan membunuh bakteri dari Kombucha.
  9. Diamkan selama 7-12 hari, baru setelah itu Teh Kombucha bisa dipanen. Selama masa fermentasi, stoples jangan diguncang-guncang. Apabila Anda ingin mencoba terlebih dahulu hasilnya, Anda bisa memasukkan sedotan dan mencicipinya sedikit dari dinding kaca. Apabila dirasakan kurang asam, Anda bisa melanjutkan mendiamkannya kembali 1-2 hari lagi.
  10. Pada setiap stoples dengan bibit/jamur Kombucha yang dipanen akan ada “Baby Kombucha” yang berupa lapisan tipis di atas jamur Kombucha yang lama. Pisahkan “Baby Kombucha” ini di tempat terpisah (dalam wadah kaca juga) untuk dijadikan sebagai cadangan. Kami menyebutnya : disimpan dalam “Hotel Kombucha”. Baby Kombucha ini kemudian berguna untuk dijadikan bibit untuk membuat teh Kombucha yang baru.

 

 

Hipertiroid | Penyakit Hormon Urutan Kedua di Indonesia

Sebulan lebih tidak update website hikss maafkeun yaaa… juga di socmed dll, hanya di tokped dan bukalapak saja yang masih aktif, itu pun slow respond bangetttt… Rasa malas makin mendera setelah November lalu daku dinyatakan positif terkena Hipertiroid.

Duh apa pula itu Hipertiroid? Nama Hipertiroid baru saja akrab di telingaku, setelah test lab dengan TSH dan juga T3 tinggi. Jadi tuh November lalu tiba-tiba saja aku merasakan jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Walaupun tidak berasa sakit tapi gak nyaman aja, kenapa ya kira-kira ini jantung, kenapa cepat banget, gak seperti biasanya. Hari ketiga setelahnya aku pun memutuskan ke dokter jantung di RS dekat rumah. Ya, rumahku memang dekat banget ke RS Pelabuhan, cukup berjalan kaki saja, kira-kira 5 menitan pun dah sampai RS.

Di RS, perawat memeriksa tekanan darahku dan juga EKG. Hasilnya : 104, rujukan normalnya antara 60-100. Duhhh… pas bertemu dokter, dokter bertanya macam-macam dan berakhir untuk periksa darah lengkap, termasuk TSH dan T3.

Dari dokter jantung aku pun ke dokter di puskesmas untuk meminta rujukan ke dokter mana lagi sebaiknya aku berkonsultasi. Dan dirujuklah daku ke dokter internist (penyakit dalam) di RS yang sama. Aku memilih RS tsb alasannya karena lebih dekat ke rumah saja jadi kalaupun antri bisa pulang ke rumah dulu, asyikk khan hehe Oh iya, aku berobat menggunakan BPJS berbayar dan memang keren banget ya fasilitas kesehatan BPJS itu 🙂 two thumbs up buat mereka-mereka yang memperjuangkannya 🙂

Oh iya, aku juga browsing-browsing donk mengenai si hipertiroid ini, dan bersyukur bisa tahu lebih banyak, makasih om gugel 🙂

-bersambung-

Salila, The First Luxurious Cruise Ship in Indonesia

Melihat foto ini, jadi ingin bernostalgia hehe yup foto ini termasuk salah satu foto yang dibuang sayang… Ya fotoku bersama crew pertama Salila sangat sayang bila dibiarkan saja hehe

Tahun 2009 lalu, saat saya masih bekerja di salah satu perusahaan pembuat kapal laut. Boss saya saat itu telah lama bergabung dengan YPO Indonesia (Young President Organization), sebuah organisasi yang berkantor pusat di Texas, beranggotakan Young President / Penerus perusahaan2 keluarga di Indonesia. Bersama dengan teman2nya di YPO Indonesia, mantan bossku itu membeli kapal “ocean going”. Ocean-going ship adalah kapal yang memang didesign dan diperlengkapi untuk menjelajah samudra. Kapal ocean-going buatan Jepang itu kemudian diconvert menjadi “kapal pesiar”. Kapal pesiar tersebut dinamakan Salila. Lupa artinya tapi bagus artinya, ya iyalah kalau jelek artinya gak akan dipakai untuk nama sebuah kapal, ya khan hehe

salila-crew

Di foto di atas, kami berada di dalam Salila, crew pertama Salila beserta designer dan admin staff Salila, minus Paul, sang kapten kapal. Persis di sampingku adalah pak Ismail Ning, bersama dengan mantan bossku, beliau PIC Salila dari pertama, hingga saat ini sepertinya. Pak Ismail Ning ini adalah anak konglomerat Hasyim Ning, yang punya cikal bakal Lippo Bank sebelum akhirnya sahamnya dijual ke Mochtar Riady. Aihh jadi inget udah beli bukunya “Manusia Ide” tapi belum sempat-sempat dibaca. Buku tersebut tentang Mochtar Riady yang keren bangettttt, dia adalah orang di belakang suksesnya BCA dan Lippo. Waduh harus siapin waktu ahh buat baca bukunya.

salila-outside

Mau lihat kerennya Salila? Visit sini aja yaaa : http://salila-indonesia.com/

Dan ini pak Ismail, keren banget yaaa…

Pernahkah Kamu Merasa Sangat Ketakutan?

Yup, Pernahkah Kamu Merasa Sangat Ketakutan? Jujur saya pernah… dan itu baru-baru saja, tepatnya hari Jumat lalu, sewaktu di dalam pesawat terbang dalam perjalanan dari Jakarta ke Solo. Bisa dibilang, perjalanan dengan maskapai Citilink tersebut adalah yang terburuk dibanding perjalanan2 saya lainnya. Memang sih saya gak banyak traveling menggunakan pesawat terbang, seumur hidup saya ini, ke luar negeri hanya 3x, Manado 2x, Makassar, Kendari, dan terakhir ke Solo (bener2 gak banyak khan hehe). Jadi ceritanya teman saya mengajak saya untuk ke Solo untuk mendemokan mixer Bosch yang saya jual, beliau juga yang menyarankan untuk naik pesawat karena beda tipis dengan kereta. Kebetulan dapat harga promo, pp hanya 500rb-an. So, kenapa tidak?

on-the-plane
on the way back, selfie dulu hehe

Jadi hari Jumat itu kami bertemu di bandara Halim PK, dan kami naik Citilink yang berangkat pukul 14.10, perjalanan hanya 1 jam lebih 10 menit. Pesawat take-off dengan mulus, walaupun saat berangkat mendung dan mulai gerimis. Setelah kurang lebih 30 menit di atas, cuaca terlihat cerah dan gumpalan awan terlihat putih. Namun tiba-tiba kami seperti dihempaskan, seolah-olah posisi pesawat turun dan turunnnn… ada kali 1 detik… setelahnya tenang, lalu terhempas lagi. Teman saya, Madam Sisca langsung memegang tangan saya, dan komat-kamit berdoa. Dia terlihat ketakutan sekali. Sementara saya? Takut juga donk tapi saya coba berani2in hehe dan saya coba mengalihkan perhatian Madam Sisca dengan menerangkan buku yang sedang saya baca. Saat itu saya membaca buku “Marketing Revolution”-nya pak Tung Desem Waringin. Sembari saya berusaha menenangkan Madam, “tenang Madam… hanya sebentar kok”. Padahal dalam hati saya juga takutttt… mencoba fokus membaca tapi sebenarnya pikiran tidak di sana, mencoba berbicara tapi kelihatan tidak yakin. Saat kami separuh bisa menguasai perasaan, kembali kami dihempaskan, duhhhh serem bangetttt… Seorang ibu yang sedang menggendong anaknya berteriak dan suaminya di sebelahnya menepuk2 pundak ibu tersebut, berusaha menenangkannya.

Saya jadi paham bagaimana rasanya kondisi seseorang yang ketakutan. Madam sampai bilang, “kayaknya kita pulang naik kereta aja ya”, sebenarnya saya juga setuju tapi diam aja hahaha Tapi sih saat pulang kami tetap stick to the schedule, naik Citilink hahahaha sayang mengeluarkan uang lagi, dan juga kami positive thinking saja, bahwa hal tersebut tak akan terjadi saat pulang nanti. Tapi kenyataannya, tetap terjadi dan syukurlah hanya sekali saja.

Barusan saya browsing, apakah yang kami alami itu adalah Turbulensi Level 1? Atau Level 1/2? Kami gak tahu juga, tapi menurut Madam Sisca saat dia di toilet, penumpang lain pun membicarakannya. Mereka mengira pilotnya mungkin masih baru (saya juga mengira demikian, tebakan saya, masih umur 30-an wkwkwk)

Nah, itu pengalaman saya saat merasa sangat ketakutan, ya takut jatuh dari pesawat, takut mati intinya… Hal yang wajar khan? namanya juga manusia hehe Itu ceritaku, bagaimana dengan teman-teman?