Category Archives: Blog

Free Demo Masakan TimTeng by bunda Esther

Siang tadi bersama temanku sesama moody bakulan Lulu Pujiantoro dan Paegy Damayanti, teman SMP-ku yang ternyata sehobby denganku, kita ikutan Demo Masakan Timur Tengah yang didemokan oleh bunda Estherlita Suryoputro. Undangan cukup lewat FB event saja.

Rupanya bunda Esther sedang proses menerbitkan buku kedua-nya mengenai masakan Timur Tengah dll, jadi promo2 d’ez kitchennya dengan mengadakan Demo Masak tersebut.

Ini dia menunya:

  • Sup Chick Peas
  • Salata (salad khas Timteng)
  • Nasi Makboush Ayam (mirip briyani, bedanya yang ini dikasih tomat, tapi tomatnya kok gak berasa ya bun hehe)
  • Om Ali ala d’ez (puding roti khas Timteng)
  • Karak tea (teh rempah + susu khas “rainbow” milk, atau evaporated milk plus skm)

Daku kurang menyimak acara Demo Masaknya secara datang telat, again hehe, dah gitu ketemu temen2 lama seperti Ena “Master Chef”, pak Sahak “pakar baking”, duo Riva-Rifa, Donna XL, Rina Rinso, Tanti, Nining, mbak Esti, Widi, Inna Putri, dll, jadi yang ada ngobrol mulu hahaha

Akhir acara ada give-away souvenir ‘tuk dibagi-bagi sebagai door prize, dan am one of the lucky person to get the key chain under my seat, horeeeee hehe thanks ya bunda…

IMG00559-20130323-1307
me n Lulu
IMG00558-20130323-1305
Paegy n me
makboush
chicken makboush
um ali
om ali, bukan om abdul hehe
salata
salata
karaktea
karak tea
keychain
key chain Abu Dhabi, dapat yang ke-2 kali dari bunda Esther dah…

 

Free Cooking Class @Dapuraya

Dua hari ini kenyang terusss dengan free cooking class. Yang pertama, baru aja kemarin cooking class-nya Kelanarasa, kelebihannya karena cooking class dilaksanakan secara hands-on, jadi praktek sendiri, bukan demo. Menunya kuliner Manado, membuat bubur Manado dan woku ayam. Masakan sederhana khas Manado ini banyak yang suka lho, buktinya RM Manado di Jalan Gadang, Tanjung Priok laku-laku aja tuh

Cooking Class event ini yang diposting oleh Lidia Tanod, mod-nya Jalansutra pertama kali kubaca di milis JS, saat itu sih dah tahu kalau Gratis tapi kok rada-rada malesss gitu secara ngadainnya jauh banget di blok M dan juga merasa dah bisa juga kalau kuliner Manado, kalau kuliner Aceh pengen juga sih tapi pas gak matching waktunya. Besoknya atau mungkin beberapa hari kemudian diposting lagi di wall fb-nya mbak Lidia, setelah itu baru deh kepikiran, walaupun dah pernah bikin ya mungkin aja ada hal baru yang tak kutahu… Jadi comment2 deh di fb-nya mbak Lidia dan disambut hangat boo…

So, pede aja deh datang ke Cooking Class tersebut. Pake acara nyasar lagi ke Blok M Plaza, itu deh akibat gak baca bener2 alamatnya hikss Karena terlambat, dapatnya duduk di barisan belakang, ternyata sebelahku adalah Gary, (dan girl friendnya ya, ehm ehm…) anaknya mbak Lidia, yang waktu itu dapat beasiswa di Singapore. Hmm… keren banget deh Gary…

Secara keseluruhan, asyik banget deh kelas masaknya Kelanarasa, eh iya ketemu JS-er lain, Jeanny… yang ternyata bayar karena dia ikut bukan sebagai member JS, tapi murah kok, cuma Rp 50.000,- worthed kok dengan materinya.

Ini dia bubur Manado, masakan pertama yang dibuat dalam kelas masak kuliner Manado
Ini dia bubur Manado, masakan pertama yang dibuat dalam kelas masak kuliner Manado
IMG00550-20130322-1642
Masakan kedua, Ayam Woku yummy lho…
IMG00546-20130322-1534
me in action, serasa jadi Chef hahaha

 

Kunjungan ke Rumah Seorang Sahabat

Sabtu sore, 17 April lalu bersama dengan Gatot Sudarto (teman SMA-ku dulu) dan Aries (teman Gatot), kami berkunjung ke rumah seorang sahabat sekelas di SMA dulu. Ahmad Zurjani (alm). Karena lokasinya tidak jauh dari rumah mertua, masih di Tg. Priok juga jadi aku iyakan saja ajakan Gatot untuk bersilaturahmi ke sana.

 

Temanku itu sudah dipanggil Tuhan sejak 2003 lalu karena sakit, meninggalkan 4 orang anak yang sekarang ini berusia 18, 16, 14 dan 7 tahun. Anak pertama ternyata lulusan sekolah yang sama dengan alm. ayahnya, jadi sama-sama alumni sekolah yang sama. Sekarang bekerja di Indomaret dan sedang mencari-cari pekerjaan lain yang lebih OK. Adik2nya masih di bangku sekolah semua.

 

Untungnya, temanku itu masih mempunyai rumah warisan orang tuanya jadi mereka tidak pusing dengan masalah tempat tinggal. Untuk sehari-hari, Nur (istri alm. temanku itu) berjualan makanan untuk para pekerja malam (baca “pekerja cafe”) yang ngekost di rumah mereka. Di daerah tersebut memang ada beberapa cafe walaupun masih lebih banyakan di daerah Jl. Raya Cilincing. Karena sang mertua tidak setuju Nur tetap saja mensuplai makanan buat pekerja cafe, walaupun dengan sembunyi2. Oh iya, sang mertua sebenarnya tidak tinggal di rumah tersebut, tapi kata Nur, “matanya banyak”, alias ada saja tetangga yang mengawasi gerak-gerik mereka. Karena posisi Nur sebagai janda dan title sang mertua sebagai haji, jadi agak2 menyulitkan. Dia harus bisa jaim keluarga besar alm. suaminya.

 

Sebetulnya sejak tahun lalu kami, tepatnya sejak reuni alumni SMA 13 ex kelas I-10 yang dilaksanakan di Tanah Tingal, Ciputat, kami sudah berpikiran untuk mencari tahu keluarga teman kami tersebut tapi akhirnya baru pada minggu lalu informasi dari seorang teman mendapat kepastian kalau mereka masih tinggal di situ.

 

Thanks to Facebook yang membuat komunikasi menjadi lancar sehingga kami bisa reuni-an, dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah sahabat kami tersebut. Ternyata juga semasa hidupnya almarhum Ahmad Zurjani mempunyai teman2 bermain yang baik, yang peduli akan keluarganya. Duluuuu dia juga termasuk â€?genk pencinta alamâ€? di kelas I-10 sehingga beberapa kali pernah ikutan camping dengan teman2. Sayangnya â€?genkâ€? tsb cowok semua, ga pernah ngajakin anak2 ceweknya hiks hiks Mereka juga kompak sekali, hampir setiap tahun setamat SMA selalu berkumpul di rumah kepala suku a.k.a ketua kelas dulu… Indahnya kenangan semasa sekolah dulu…

 



Mimpi Ibu Merry

My favourite episode of Kick Andy: tayang beberapa minggu lalu.

Suatu hari, seorang teman lama menelpon saya. Dia menceritakan kisah yang membuat hati saya tersentak lalu tergerak. Cerita tentang istri almarhum mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Menurut teman saya, ketika Pak Hoegeng masih hidup, dia pernah berjanji suatu hari kelak, jika punya uang, dia akan mengajak istrinya ke Hawai, Amerika Serikat. Mengapa Hawai? Karena mereka berdua begitu mencintai lagu-lagu “irama lautan teduh”.

Hoegeng dan Merry Roeslani, sang istri, sejak muda memang sangat menyukai musik hawaian. Kecintaan pada jenis musik tersebut mendorong mereka menghidupkan kembali kelompok musik Hawaian Seniors yang dulu pernah dibentuk Hoegeng semasa remaja. Mereka bahkan tampil sebulan sekali di TVRI dan merupakan program yang sangat diminati pada tahun 1970-an.

Namun apa mau dikata. Sebelum janji itu bisa dipenuhi, sang jenderal yang jujur dan sederhana itu lebih dulu dipanggil Tuhan. Hoegeng pergi selama-lamanya tanpa sempat mengajak sang istri menginjak pasir Waikiki Beach di Hawai yang terkenal itu. Hoegeng juga tak pernah sempat mengajak Merry melihat penari hula-hula asli di pulau tersebut. Karena itu, saya bisa membayangkan betapa sedih hati Ibu Merry.

Bagi Anda yang mungkin lupa, selama menjadi Kapolri, Pak Hoegeng setiap akhir bulan tampil bermain musik bersama Hawaian Seniors membawakan lagu-lagu irama lautan teduh. Duet Hoegeng dan Merry sanggup menyihir penonton televisi pada tahun 1970-an.

Bahkan penampilannya di TVRI waktu itu terus berlanjut walau Pak Hoegeng sudah pensiun. Hingga pada 1978, Hawaian Seniors “dicekal” tidak boleh tampil di TVRI oleh penguasa Orde Baru. Tidak pernah jelas mengapa. Alasan “resminya” karena acara tersebut dinilai tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Tetapi diduga pencekalan itu berkaitan dengan keikutsertaan Pak Hoegeng menandatangani “Petisi 50” yang berisi kritikan keras terhadap Pak Harto.

Pencekalan terjadi setelah pak Hoegeng, Ibu Merry dan Hawaian Seniors sepuluh tahun tampil menghibur di TVRI. Waktu yang cukup lama. Tetapi, percaya atau tidak, selama itu pula belum pernah sekalipun Ibu Merry menginjakkan kakinya di pasir Waikiki Beach yang terkenal itu. Padahal, sebagai Kapolri, Pak Hoegeng sudah pernah tiga kali bertugas ke Amerika dan sempat mampir di Hawai.

Ibu Merry tidak pernah ikut karena Pak Hoegeng memiliki prinsip yang sangat teguh: selama melakukan perjalanan dinas, istri dan anak-anak tidak boleh ikut “numpang” fasilitas kantor. “Dia tidak pernah mengijinkan saya dan anak-anak memanfaatkan kesempatan menggunakan fasilitas dinas”, ungkap Ibu Merry. “Sementara untuk beli ticket dengan uang sendiri kami tidak mampu”.

Ironis memang. Sulit dipercaya ada orang sejujur Pak Hoegeng di negeri ini. Tak heran jika kemudian muncul idiom: Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang jujur. Polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitu jujurnya sampai ketika meninggal tak banyak harta benda yang dia tinggalkan untuk keluarganya. Bahkan setelah 32 tahun mengabdi di kepolisian, uang pensiun yang diterima Pak Hoegeng cuma Rp 10 ribu.

Kawan saya menilai kisah tentang Ibu Merry tersebut layak diangkat di Kick Andy. Agar banyak pihak terbuka matanya bahwa di negeri ini ada sebuah ironi. Ironi kehidupan seorang pejabat yang jujur dan seorang istri yang tabah.

Setelah mendengar kisah tentang Pak Hoegeng dan Ibu Merry, ada “panggilan” yang begitu kuat di dalam dada. Panggilan untuk mewujudkan mimpi Ibu Merry. Mimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Pantai Waikiki. Dalam usianya yang sudah di atas 80 tahun, mungkin ini permintaan terakhir yang akan dikenangnya sebelum Tuhan memanggilnya.

Tapi, jujur saja, saya sempat ragu apakah bisa mewujudkan mimpi tersebut. Terutama ketika mendengar cerita bahwa sudah dua kali Ibu Merry ditolak ketika mengajukan visa ke Kedutaan Besar Amerika Serikat. Tak ada penjelasan mengapa permohonannya ditolak. Sejak penolakan yang kedua, Ibu Merry sudah mengubur dalam-dalam impiannya untuk bisa melihat Hawai.

Saya mencoba menghubungi pihak kedutaan Amerika dan menjelaskan keinginan saya untuk membantu Ibu Merry guna mendapatkan visa. Saya berusaha menjelaskan siapa Pak Hoegeng dan kisah tentang mimpi Ibu Merry untuk bisa menginjakkan kaki di pulau yang selama ini hanya dikenalnya melalui gambar dan cerita-cerita orang.

Pihak kedutaan Amerika mengatakan tidak berjanji dapat mengabulkan permintaan saya itu. Mereka menegaskan adanya peraturan keras dari pemerintah Amerika yang tidak pandang bulu. Saya katakan kepada mereka saya bisa memahami dan tidak akan memaksa. Saya hanya ingin menyenangkan hati seorang wanita luar biasa yang selama hidupnya banyak mengalami kepahitan hidup. Apa salahnya di ujung hidupnya, sekali ini, dia dapat mereguk kebahagiaan. Apalagi ada kemungkinan ini adalah “last wish” atau permintaan terakhirnya.

Akhirnya, kisah tentang Pak Hoegeng, Hawaian Senior, dan ibu Merry saya angkat di Kick Andy. Pada bagian akhir ac ara, kepada ibu Merry saya tanyakan tentang apa keinginannya yang belum terwujud. Dengan suara pelan, sembari menghela nafasnya, ibu Merry bercerita tentang kerinduannya untuk bisa ke Hawai. Kerinduan yang sudah dikuburnya.

Dua kali visanya ditolak dan keuangan yang terbatas, membuatnya pasrah. Dia juga harus mengubur impiannya untuk bertemu dengan sahabatnya Mukiana, perempuan asal Hawai, yang sangat dirindukannya. Sudah tiga puluh tahun lamanya mereka tidak berjumpa. Mukiana pernah tinggal di Indonesia selama enam tahun dan bersama-sama menari dan bernyanyi di acara Hawaian Seniors.

Di ujung acara Kick Andy saya menyambungkan hubungan telepon antara Keala Mohikana dan ibu Merry. Tampak ibu Merry terkejut mendapat sambungan langsung dengan sahabat yang dirindukannya itu. Ibu Merry lalu menanyakan kapan Keala Mohikana bisa ke Jakarta. Tapi, pada pertengahan pembicaraan, tiba-tiba Keana Mohikana muncul dari balik panggung. Ibu Merry tertegun seakan tak percaya. Sahabatnya itu kini berada tepat di depannya. Kedua wanita tua itu lalu saling berpelukan melepas rindu.

Belum sempat ibu Merry meredakan rasa harusnya, tiba-tiba Aditya, putra ibu Merry, mengeluarkan visa dari kantongnya. Tuhan Maha Besar. Kedutaan Amerika kali ini meloloskan ibu Merry dan juga Aditya untuk masuk wilayah Amerika. Mereka berdua mendapat visa!

Selesai sampai di situ? Belum. Kepada ibu Merry, saya serahkan sebuah amplop. Isinya kemudian dibaca oleh ibu Merry: tiket pulang pergi Jakarta – Hawai – Jakarta. Maka sempurnalah perjuangan saya, teman saya, dan Aditya untuk memberikan “hadiah” paling indah dalam hidup ibu Merry, yakni kesempatan pergi ke Hawai.

Sejumlah penonton di studio tak kuasa menahan haru. Mereka menitikkan air mata. Apalagi saat Aditya menunjukkan visa dan kemudian ibu Merry menerima tiket ke Hawai yang dipersembahkan Surya Paloh, pemilik Metro TV.

Selesai rekaman Kick Andy, semalaman saya tidak bisa tidur. Hati rasanya bahagia sekali. Semua upaya dan jerih payah terbayar sudah. Kalau melihat ke belakang, rasanya semua itu tidak mungkin terjadi. Mulai dari upaya teman saya mendatangkan Mukiana ke Jakarta, usaha untuk mendapatkan visa yang sudah dua kali ditolak, sampai tiket ke Hawai pemberian Surya Paloh, semua berjalan tanpa hambatan. Tuhan Maha Besar.

(sumber: KickyAndy.com)

Mengapa magnet menarik besi ?

“Mah, mengapa magnet menarik besi ? kenapa enggak kayu ?” itu pertanyaan Callis beberapa hari yang lalu. “Wah, mama juga belum tahu, nanti mama cari dulu ya..” Weleh, padahal dalam hati aku ketar-ketir juga, cari di mana ya ? kayaknya di wwp ga ada dehhhh 🙁 Untungnya, sore hari aku ga ada acara apa2, iseng kubuka hdi, judule “energi dan fisika”..mudah2an ada di sini jawabannya. Aku baca topik2 yang ada di buku tsb, asyikkkk ada juga ternyata.. Langsung aja kupanggil Callis, “tadi siang Callis tanya soal magnet khan ? mengapa bisa menarik besi ? nih ada jawabannya di hdi. Mama bacain yaaa…

Duh senangnya hatiku bisa menjawab pertanyaan anakku yang sedang masa kritis2nya tanya ini, tanya itu.. Pertanyaan tsb berawal dari tempelan kulkas yang diberikan guru musiknya beberapa hari sebelumnya. Sebetulnya udah ada tempelan kulkas yang lain sebelum tempelan kulkas berlogo “Fakultas Psikologi Atmajaya” tsb, tapi karena yang satu itu diberikan oleh seorang “kak amanda” jadi lebih menarik perhatiannya dibanding yang lainnya.

Sebetulnya juga banyak pertanyaan2 kritis Callis yang lainnya, yang sayangnya lolos dari “sensor” kearsipanku.. Maksudnya, sejak beberapa bulan lalu, aku ceritanya sudah bertekad ingin mendokumentasikan semua pertanyaan2 Callis, khususnya yg “critical”, sayangnya karena management waktu-ku yang kurang baik jadi belum terlaksana deh 🙁 Baru ini aja yang sempat, gpp deh yaaa 🙂

Demo Panci ISA

Hasil posting Panci ISA di facebook ada seorang teman sma-ku (Widi atau Tuti) yang bertanya, “fem, harganya berapa, pancinya seperti apa” dll dll. Aku bilang lihat aja di rumah Uci, teman smp dan sma kami juga yang satu kompleks dengannya. Oh Ok, balasnya, kebetulan besok (atau hari ini) ada arisan di rumah Uci, nti sekalian lihat pancinya. Mendengar kata arisan, pikiranku mengembara… arisan… arisan itu khan identik dengan demo macam2… dah lama sekali ga pernah ikut arisan, dah lama banget ga pernah demo panci ISA lagi dan demo2 lainnya, kenapa daku ga datang aja sekalian mendemokan panci ISA, apalagi seingatku si Uci cuma beli doank, jarang banget masak2nya, ditanya cara pakai panci ISA nya juga dia gak tahu hahaha Baru sekali atau dua kali dia pakai, itu pun pas masak meminta bantuan tetangga untuk bantu menggunakan panci ISA. Ya ampunnnn Uci.. padahal dia dah tahu kalau aku juga jualin panci ISA, kenapa juga ga tanya2 ke aku hahaha 
Asem-asem Daging resepnya mbak Ine
So, akhirnya aku tawarkan ke Tuti, “mau ga bikin demo panci ISA di rumah Uci?” yang disambut dengan antusiasnya, boleh…boleh fem… Eh tapi tunggu dulu ya, gue tanya dulu ibu Lien bisa ga…balasku. Ibu Lien itu mantan spv-ku dulu di emb yang sekarang full time di Isa. Masalahnya kalau demo bikin kue iya aku pede, lha ini disuruh masak, ya walaupun sebenarnya bisa juga sihhhh xixixi.. tapi tetap aja gak pede hiks hiks dan belum aku sampaikan bisa tidaknya, Tuti dah bbm, “Fem, undangan dah dibroadcast lho. Harus hadir yaaa.. hehehe Lhaaaa akhirnya mau bilang apa lagi daku? Secara mereka teman-temanku sejak SMP, SMA dan masih contact hingga kini. Bahkan Uci pernah satu kantor denganku dulu… Uci juga pernah satu kantor dengan Tuti, ihhh enaknya ya satu kantor sama teman…
Enaknya demo di rumah Uci karena aku dah sering main ke rumahnya, dah kenal ibu, anak2 dan misuanya jadi asyik2 aja deh mengacak-acak dapurnya. Lagian dia yang mau menyediakan bahan2nya, aku cukup menyiapkan bumbu2 saja. Dasar jualannya ga niat ya hahaha Oh iya, awalnya aku saranin ‘tuk bikin Semur Daging, yang gampang-gampang saja, eh tapi ternyata hari itu Uci masak Semur Daging jadi cari menu lainnya. Lihat-lihat buku resep yang kubeli dari mbak Ester, ada juga sih yang ok tapi terus aku lihat lagi mp-nya mbak Ine, ada resep Asem-asem Daging yang simple banget bahan-bahannya. Ya sudah aku usulkan bikin Asem-asem Daging saja, Uci OK-OK aja. Jadilah kita bikin Asem-asem Daging, resepnya pakai resepnya mbak Ine (thanks ya mbak) dan akan aku posting di resep yaa…
Alhasil… belum ada hasilnya, secara ibu-ibu masih harus mikir seribu kali ‘tuk beli kitchen equipment yang harganya cukup mahal… tapi banyak yang tertarik, nabung dulu kali ya bu hahaha
Setelah dijalanin, ternyata ga sulit juga ya hahaha jadi kepikiran buat menawarkan demo panci ISA lagi nie besok-besok buat customer2ku atau calon customer 🙂
Ini dia photonya, secara aku lupa photo2in pas lagi demo panci ISA, yang keinget photo masakannya aja, gpp deh ya hehehe
 

 

 
 
 
 
 
 

 

Jual Wajan Kwalik Signora Rp 428.000 | Femmy 0813 807 12348

Buat teman-teman yang masih kesulitan membuat Kulit Risoles dan juga menggorengnya yang ok, baca juga ya Tips n triknya di sini, bila mencari wajan kwalik merk Signora, silakan hubungi Femmy ya…

http://kaliskukis.com/cara-membuat-kulit-risoles-seluk-beluk-n-tips-n-trik/

http://kaliskukis.com/cara-menggoreng-risoles-tips-n-trik/

Buat teman-teman yang penasaran dengan penampakan wajan kwalik, ini aku upload yaaaa….

Wajan Kwalik atau Crepe Kompor merk SIGNORA

Wajan Kwalik atau wajan crepes adalah wajan yang terbuat dari teflon, fungsinya untuk membuat kulit risoles, kulit crepes, kulit dadar gulung, dll. Disebut wajan kwalik karena posisi teflonnya yang “kwalik” atau terbalik, tidak seperti teflon biasanya. Coba aja perhatiin deh…

1 set wajan lwalik terdiri dari

  1. 1 (satu) wajan anti lengket dan
  2. 1 (satu) wadah adonan bahan anti lengket
  3.  Buku resep
  4.  Gagang terbuat dari bahan anti lengket, warna hitam.
  5.  Diameter wajan 20 cm (umumnya hanya 1 ukuran 20 cm ini saja)
  6.  Harga Rp 428.000
  7.  Ongkir Jabodetabek Rp 9.000  (by JNE)

Sebelum order mohon konfirmasi dulu, by sms ke 0813 807 12348 atau WA 0878 8106 0909  takutnya wajan kwalik nya kosong.

Oh iya, pengiriman 1 hari setelah transfer.

Thanks yahh… dan ditunggu orderannya.

Resep Dadar Kulit Risoles

  • 250 gr Tepung terigu protein tinggi (mis Cap Cakra kembar)
  • 2  bt telur
  • 1 sm minyak goreng (bisa di ganti margarine di cairkan)
  • garam
  • 1/2 sendok teh baking powder
  • 600-650  CC air

CARA:

  1. Campur bahan kering, aduk jadi satu, pecahkan telur di tengah2 tepung, tuang minyak goreng, tuangkan air sedikit demi sedikit sambil di aduk searah. selanjutnya, lihat petunjuk di atas.
  2. Air jangan di tuang semua, sisakan kira2 50 cc, lihat situasi, tepungnya cukup kering atau lembab.
  3. Bagi pemula, bisa mengencerkan adonan, sebatas petunjuk di resep saja.
  4. Satu resep bisa jadi 25-30 lembar kulit. bagi pemula, 20-23 lembar aja sudah suatu prestasi bagus. Ukuran diagmeter wajan 24 cm.
  5. Gunakan sendok sayur yang pas satu sendok untuk satu kali dadaran, ini memang mesti di cari dan di coba2, agar hasil kulitnya merata.
  6. Goyangkan wajan segera setelah menuang sesendok adonan, supaya adonan cepat menyebar menutupi permukaan wajan.
  7. Satu resep dasar Kulit risoles, bisa digunakan untuk berbagai macam kue, Risoles Soto Mie, Sosis Solo, Panekuk Coklat, Dadar gulung hijau, crepes dll
  8. Untuk rasa kulit lebih gurih, gantikan minyak goreng dengan margarine, dan tambahkan 50 gram susu bubuk, atau, gantikan air dengan menggunakan susu cair.
  9. Kalau untuk risoles biasa, pakai air saja sudah cukup enak, karena isinya sudah mengandung susu (ragout).
  10. Untuk panekuk coklat, ganti 30 gr terigu dengan 30 gr coklat bubuk, gunakan juga susu bubuk supaya lebih gurih.
  11. Untuk dadar gulung, gunakan air daun suji untuk mengadoni sebagian air bisa di ganti santan.
  12. Khusus dadar gulung, justru setiap akan menuang adonan ke wajan, harus di oles minyak supaya bopeng2, karna inilah trade marknya si dadar gulung. (kata ibunya Rita Fauziah tuh…:-))
  13. Pengoles minyak di wajan, buat dari kain tipis yang di uwel2, lalu di ikat ujunnya. Bagian yang bulat yang di celupkan ke minyak atau margarine cair, di oles2kan ke wajan, sehingga minyak tidak berlebihan di wajan.